Mencari Seribu Alasan Berprasangka Baik. Siapa Takut !

Tak terasa sudah sepekan memasuki bulan suci Ramadhan ke 1438 H yang jatuh pada tahun 2017 ini. Kira-kira apa yang sudah kamu siapkan? Baju lebaran atau hati yang baru ? Mari kita sama-sama belajar menata hati kita di bulan Ramadhan kali ini, diharapkan bisa berlanjut dibulan-bulan selanjutnya.

Benefits-of-Positive-Thinking.jpg

Alhamdulillah kesempatan kali ini saya ingin menulis untuk ikut tantangan #NulisRandom2017 yaitu hal-hal yang berhubungan dengan islam dan tentang akhlak, dimana setiap hari kita menjalaninya, kali ini saya akan membahas tentang larangan berburuk sangka (su’udzon) dalam ajaran Islam, Sahabat surgaku sekalian Rasulullah Saw Bersabda :
 
Qaala Rasulullah Saw :
“Iyyaakum Wazhzhanna Fa Innazhzhanna Akdzabul Hadiistsi Walaa Tahassasuu Walaa Tajassasuu Walaa Tanaa Jasyuu Walaa Tahaasadul Walaa Tabaaghaduu Walaatadaabarruu Wakuunuu Ibaadallaahi Ikhwaanan”. (HR. Abu Daud dari Abdullah bin Maslamah).
 
Artinya :
Sabda Rasulullah Saw :
“Jauhilah olehmu Berprasangka, sesungguhnya Berprasangka itu pendusta benar (sedusta-dusta pembicaraan). Dan janganlah kamu mendengar rahasia orang, jangan mengintip aib orang, jangan tambah menambahi harga untuk menipu, jangan saling mendengki, benci membenci dan jangan pula bermusuhan. Jadilah kamu hamba Allah yang bersaudara”. (HR. Abu Daud dari Abdullah bin Maslamah).
Mulailah dari komponen yang terkecil untuk perubahan yaitu diri kita sendiri, Bingung mau mulai dari mana , ikutin Tips berikut ini yuks ?

Mulailah Dari Diri Sendiri

Manusia telah digariskan memiliki jalannya sendiri, jangan pernah merasa iri apalagi dengki terhadap orang lain. Niatkan dalam diri sendiri ingin berubah menjadi lebih baik. Yakinkan pada diri apa yang kita dapatkan adalah sudah yang terbaik menurut Allah bukan kita, kalau kita percaya bahwa hidup yang diberi adalah yang terbaik maka kita akan bahagia.

12907135_1589223744728216_361841582_n.jpg

Jangan Terlalu Diambil Hati

 

Jangan baper kalau tiba-tiba kamu dijauhin oleh temenmu , sama seperti kamu bisa saja temanmu itu sedang bosan. Karena kita tidak bisa memaksa seseorang untuk nyaman dengan kita, kasih waktu juga buat temanmu untuk bersosialisasi dengan orang lain. jangan sampai kita malah menjadi pemutus silahturahmi teman dengan yang lainnya.

hipwee-Email

Menyibukan Diri Sendiri

Cari kegiatan positif biar kamu tidak kepikiran orang lain, apalagi kalau habis ditinggal kekasih, ingat Sahabat Surgaku pacaran sebelum menikah itu dilarang loh, jauhi yah…banyak kegiatan yang bisa kamu lakukan daripada harus memikirkan orang yang tak pernah memikirkanmu. contohnya : Berolah raga , ikut workshop gratis atau menulis. masih banyak kegiatan lain bisa sobatku kerjakan.  Jangan pernah sia-siakan waktu luang.

typing-on-laptop-750x482

Tak Ada Istilah Kebetulan

Tidak ada apapun didunia ini berjalan dengan kebetulan, baik itu peristiwa buruk  (Mudharat) ataupun peristiwa baik melainkan semua berjalan atas izin sang pemilik kehidupan yaitu Allah, tanamkan itu didalam hati kita inshaallah hati menjadi tenang. Jangan terlalu berlebihan dalam memandang hidup ini , jika ada yang belum kita capai atau miliki mungkin itu memang bukan yang terbaik . Akan ada pengganti yang terbaik jika keinginan kita belum terpenuhi.

shutterstock_189357902

Orang yang bahagia tidak harus memiliki semua yang terbaik, Namun mereka menjadikan semua miliknya menjadi yang terbaik.

Semoga beberapa tips diatas bisa membantu Sahabat Surga ku untuk mampu berprasangka baik sekalipun dalam situasi tersulit.

 

 

 

 

Niqoof…?? why…?

cropped-img_1028

Itulah pertanyaan yang sering dilontarkan banyak teman yang mengenalku, hampir tiga bulan ini aku belajar mengenakan Noqoof/Cadar ketika menghadiri tausiah, pengajian dan acara yang tak resmi. Awalnya mengenakan niqoof sebagai promosi untuk product cloting line hijab ku.

Pertama kali memakai Niqoof terus terang aku kesulitan bagaimana cara makanan masuk kemulut ku, kalo makan  belepotan dan lebih sering tumpah…hehe, hingga pada akhirnya aku memilih membungkus makanan untuk dibawa pulang. Bahkan sepupuku tak mau pergi bareng kalau aku mengenakan niqoof namun aku tetap memakainya.

Pernah ada kejadian sepupuku marah karena aku mengenakan niqoof ketika hendak makan direstoran hingga sepupu ku bilang kepada pelayannya ” Ini ada calon TKI mau berangkat ke Arab “, Aku bukan calon TKI yang hendak pergi ke Arab…jadi cuek ajah.

Reaksi dari temen-teman begitu foto aku memakai niqoof terpampang di medsos pertama kali :

  • Shock , Pasti yaaah…ini mah ga cuma temen keluarga juga shock berat sampe mamaku nyebut “Astagfirullah”…hihi
  • Disangka punya problem berat
  • Diduga karena patah hati
  • Dianggap sebagai pelarian…*Lari dari kenyataan mungkin..hehe*
  • Teroris
  • Yang lebih extreme adalah  dibilang ikut ajaran menyimpang…Duuuh Istigfar teman, jangan sembarangan nuduh…please

Ada beberapa teman sampai meluangkan waktu khusus untuk bertemu dan ingin melihat langsung keadaanku hingga tahap menyelidik…”Ada apa dengan kamu? cerita dong ? ” . Mau gimana lagi karena memang tak ada cerita kenapa tiba-tiba aku mengenakan niqoof. Hingga ada temanku yang menyuruh berlibur siapa tau dapat mengembalikan otakku yang agak bergeser…hahah

Sebenarnya aku ga full juga pake niqoof, dirumah juga ga pake atau jika ketemu teman dekan / sahabat aku tidak mengenakanya.

Setiap manusia akan mengalami prosesnya masing-masing entah Ia menjadi lebih baik atau menjadi lebih buruk di hadapan manusia atau Allah sesuai pilihannya.

Niqoof yang aku kenakan bukan simbol dari agama yang aku anut bukan pula sebagai dalil yang ingin aku perkuat.

Jangan pula beranggapan karena aku mengenakan niqoof aku sudah hafal Al-Quran dan Hadist lantas dianggap pantas menjadi guru…salah teman…Aku hanya manusia biasa yang masih harus banyak belajar dan hingga akhir hayatku tetap menjadi pelajar . Belajar menjadi wanita yang lebih baik dari masa laluku bukan orang lain.

Wajah dan telapak tangan bukanlah yang wajib untuk ditutupi, namun bagiku wajah adalah sumber maksiat dan zina yang nyata, dengan mengenakan niqoof setidaknya memperkecil tatapan banyak Pria yang bukan muhrim. Nyaman rasanya mengenakan niqoof jadi berasa disayang Allah karena setiap hari jadi lebih baik bahkan tukang parkir selalu mengucapkan salam, polisi gopek, penjaga tol selalu menjaga agar tak menyentuh jariku ketika menerima/mengambil uang.

Lantas bagaimana dengan pekerjaan ? emang udah ga butuh uang??…siapa didunia ini yang tak butuh uang, semua pasti butuh uang…setujuu kaan? hehe, uang bukan segalanya…uang bukan sumber kebahagiaan, tapi kalo ga ada uang repot juga…hahaha

Aku single fighter dimana semua kebutuhan harus dicari sendiri…Sediiiiih, harus membatalkan bahkan menolak banyak kerjaan tapi aku percaya Allah akan mengganti dengan yang lebih baik dan halal…Aamiin

Entah untuk sesaat atau selamanya…semua hanya untuk menjadi lebih baik…Aamiin

 

 

Riwayat Lukman Al-Hakim

Berikut diceritakan suatu kisah yang sudah masyhur, kisah Luqman AL-Hakim dan Keledai, tapi alangkah baiknya kita mengenal sedikit siapa itu Luqman Al-Hakim. Luqman Al-Hakim adalah seseorang yang istimewa, yang namanya Allah abadikan dalam Alquran. Beliau bukanlah nabi atau rasul, tapi pola didik terhadap anaknya patut dijadikan panutan. Dialah Luqman Al hakim.

Banyak perbedaan pendapat dari kalangan ulama mengenai siapa sesungguhnya Luqman Al Hakim. Ibnu Katsir mengatakan bahwa “Luqman adalah seorang lelaki sholeh, ahli ibadah dengan pengetahuan dan hikmah yang luas.” Ibnu katsir juga mengatakan bahwa “Luqman Al Hakim didalam Al Quran adalahLuqman bin Unaqa’ bin Sadun.” Ada juga yang mengatakan dia adalah Luqman bin Sarad sebagaimana dikisahkan oleh Ali Suhaili dari Jarir dan Al Khuzaimi.

Ibnu Khatim mengatakan bahwa “Abu Zur’ah Shafwan bin Walid, Abdurrahman bin Yazid telah bercerita kepada kami dan Jabir berkata “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Luqman Al Hakim dengan Hikmahnya. Seorang lelaki yang sudah mengenal dirinya dan sebelumnya pernah melihatnya didalam sebuah majelis bertanya kepadanya “Bukankah engkau budak dari bani fulan yang menggembalakan kambing kemarin. Luqman menjawab “Ya” Lelaki itu berkata “Apa yang membawaku menyaksikanmu hari ini?” Luqman berkata “Takdir Allah, menunaikan amanah, jujur dalam perkataan dan meninggalkan apa-apa yang tidak berguna.” (Tafsir Al Quran Al Azhim Juz 12 hlm 333-335)

Allah Azza wa Jalla telah mengangkat Lukman Al Hakim dengan hikmahnya. Untuk itu Luqman dijuluki dengan Ahlul Hikmah. Mungkin kita sudah sering mendengar kata hikmah. Namun pada hakikatnya kita sering meleset akan arti hikmah tersebut. Hikmah adalah kemampuan memecahkan masalah dan mampu mencari solusi terbaik dari suatu masalah. Sehingga hasil dari hikmah itu adalah kemaslahatan bagi orang tersebut.

Ada beberapa ayat dalam Alquran yang mengabadikan pelajaran Luqman terhadap anaknya, salah satunya adalah firman Allah :

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Artinya:
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.
(QS. Luqman: 13).

Kembali ke kisah inti yang akan diceritakan, dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa pada suatu hari Luqman al-Hakim bersama anaknya pergi ke pasar dengan menaiki seekor Keledai. Ketika itu Luqman naik di punggung Keledai sementara anaknya mengikuti di belakangnya dengan berjalan kaki. Melihat tingkah laku Luqman itu, ada orang yang berkata, “Lihat itu orang tua yang tidak merasa kasihan kepada anaknya, dia enak-enak naik keledai sementara anaknya disuruh berjalan kaki.” Setelah mendengarkan gunjingan orang orang, maka Luqman pun turun dari keledainya itu lalu anaknya diletakkan di atas keledai tersebut. Melihat yang demikian, maka orang di pasar itu berkata pula, “Hai, kalian lihat Situ ada anak yang kurang ajar. Orang tuanya disuruh berjalan kaki, sedangkan dia enak-enaknya menaiki keledai.”
Setelah mendengar kata-kata itu, Luqman pun terus naik ke atas punggung keledai itu bersama-sama dengan anaknya. Kemudian orang-orang juga ribut menggunjing, “Hai teman-teman, lihat itu ada dua orang menaiki seekor keledai. Kelihatannya keledai itu sangat tersiksa, kasihan ya.” Oleh karena tidak suka mendengar gunjingan orang-orang, maka Luqman dan anaknya turun dari keledai itu, kemudian terdengar lagi suara orang berkata, “Hai, lihat itu. Ada dua orang berjalan kaki, sedangkan keledai itu tidak dikenderai. Untuk apa mereka bawa keledai kalau akhirnya tidak dinaiki juga.”

Ketika Luqman dan anaknya dalam perjalanan pulang ke rumah, Luqman al-Hakim menasihati anaknya tentang sikap orang-orang dan keusilan mereka tadi.

Luqman berkata, “Sesungguhnya kita tidak bisa terlepas dari gunjingan orang lain.”
Anaknya bertanya, “Bagaimana cara kita menanggapinya, Ayah?”

Luqman meneruskan nasihatnya, “Orang yang berakal tidak akan mengambil pertimbangan melainkan hanya kepada Allah Swt. Barang siapa mendapat petunjuk kebenaran dari Allah, itulah yang menjadi pertimbangannya dalam mengambil keputusan.”

Kemudian Luqman Hakim berpesan kepada anaknya, katanya, “Wahai anakku, carilah rizki yang halal supaya kamu tidak menjadi fakir. Sesungguhnya orang fakir itu akan tertimpa tiga perkara, yaitu tipis keyakinannya (iman) tentang agamanya, lemah akalnya (mudah tertipu dan diperdayai orang) dan hilang kemuliaan hatinya (kepribadiannya). Lebih dari sekedar tiga perkara itu, orang-orang yang suka merendah-rendahkan dan menyepelekannya.”

dari kisah diatas semoga kita bisa mendapat pelajaran yang berharga, selama apa yang kita lakukan itu diiringi niat baik, keikhlasan dalam berproses dan tidak melanggar syari’at, maka omongan orang tentang apa yang kita perbuat tidak usah diambil hati dan tidak perlu khawatir. bahkan jangan sampai omongan negatif orang pada kita mendorong kita menjadi malas melakukan pekerjaan, minder / rendah diri, tidak bersemangat lagi dan mendorong kita melakukan hal-hal yang tidak terpuji lainnya. jadikan semua itu sebagai batu ujian yang bisa kita jadikan pijakan untuk melangkah lebih jauh lagi. Kalaupun khawatir, khawatirlah jika yang kita lakukan itu jelek dimata Allah dan mengundang murka Allah, naudzubillah….

“Sesungguhnya Allah tidak memandang pada rupa dan harta kalian, melainkan pada hati dan amal shalih”

Berlomba-lombalah dalam membagus-baguskan hati dan amalan kita sebagai bekal di akhirat kelak  dan bukan malah membagus baguskan penampilan.

Belajar dari kisah diatas maka luruskanlah “Niat” mantabkan “Tujuan”
semoga bermanfaat..:)

Sumber dari blok Harian Hikmah dan kajian Tausiah Aa Gym

Gambar diambil dari : http://www.grazera.com/anak-dan-remaja/seri-kisah-teladan-luqman-al-hakim-dan-keledai-39985.html